CEO Singapore Airlines Terima Remunerasi Sekitar Rp130 Miliar, Naik Seiring Kinerja Rekor Perusahaan

Singapore Airlines (SIA) mengungkapkan bahwa Chief Executive Officer (CEO) Goh Choon Phong menerima total remunerasi sekitar Rp130 miliar (setara S$9,69 juta) untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Maret 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 38% dibandingkan remunerasi tahun sebelumnya yang mencapai sekitar S$7 juta.

Kenaikan remunerasi ini diumumkan bersamaan dengan laporan tahunan Singapore Airlines yang mencatat pendapatan tertinggi sepanjang sejarah, yakni S$20,5 miliar atau sekitar Rp276 triliun. Selama periode tersebut, grup Singapore Airlines juga mengangkut 42,2 juta penumpang, naik 7,7% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara laba operasional meningkat 39% berkat tingginya permintaan perjalanan udara dan penurunan biaya bahan bakar bersih.

Rincian Remunerasi CEO

Berdasarkan laporan tahunan Singapore Airlines, komposisi remunerasi Goh Choon Phong terdiri dari beberapa komponen, yaitu:

  • Total remunerasi: sekitar Rp130 miliar (S$9,69 juta)
  • Gaji pokok: sekitar Rp20 miliar (S$1,46 juta)
  • Penghargaan saham (share-based awards): sekitar 49% dari total remunerasi
  • Bonus kinerja: sekitar 35% dari total remunerasi
  • Sisanya berasal dari berbagai tunjangan lainnya.

Mengapa Remunerasinya Meningkat?

Singapore Airlines menjelaskan bahwa peningkatan remunerasi tidak semata-mata berasal dari kenaikan gaji atau bonus tahunan.

Sebagian besar kenaikan disebabkan oleh pencairan tahap terakhir program insentif saham jangka panjang (strategic share award) yang diperkenalkan saat pandemi COVID-19. Program tersebut dirancang untuk mempertahankan eksekutif senior sekaligus memberikan penghargaan atas keberhasilan perusahaan memulihkan bisnis setelah pandemi. Tahap terakhir insentif tersebut diberikan pada Juli 2025 berdasarkan kinerja tahun buku 2024/25.

Di Tengah Laba Bersih yang Menurun

Meski mencatat rekor pendapatan, laba bersih Singapore Airlines justru turun 57,4% menjadi sekitar S$1,18 miliar.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh tidak adanya keuntungan akuntansi satu kali (one-off gain) dari merger Air India–Vistara yang tercatat pada tahun sebelumnya, serta bagian kerugian yang harus diakui Singapore Airlines dari investasinya di Air India. Namun secara operasional, bisnis maskapai tetap menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

Share this Article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *